berantasnarkoba.com – Apple dikabarkan mengirimkan peringatan kepada sejumlah pengguna iPhone di 110 negara.
Mereka diperingatkan bahwa perangkatnya kemungkinan menjadi sasaran serangan perangkat lunak mata-mata atau spyware canggih.
Informasi soal notifikasi ini disampaikan periset keamanan siber, Costin Raiu di akun X (Twitter) pribadinya dengan handle @craiu.
Dalam pada Jumat (30/10/2026) kemarin, ia mengatakan bahwa notifikasi terkait ancaman tersebut sedang dikirimkan Apple.
“Serangan ini juga berbeda dari serangan yang menargetkan perangkat Apple pada Agustus lalu,” kata Raiu.
Raiu juga mengumbar detail pengumuman yang diberikan Apple, dengan isi sebagai berikut:
“Peringatan hari ini dikirim kepada pengguna yang menjadi sasaran di 99 negara. Hingga saat ini, kami telah mengirimkan peringatan kepada pengguna di lebih dari 150 negara secara keseluruhan. Biaya yang sangat tinggi, kecanggihan, serta jangkauan global serangan spyware bayaran menjadikannya salah satu ancaman digital paling canggih saat ini. Karena itu, Apple tidak mengaitkan serangan maupun peringatan yang Anda terima dengan pelaku atau wilayah geografis tertentu.”
Berdasarkan TechSpot, Apple mengonfirmasi pengiriman peringatan tersebut pada Sabtu (31/10/2026). Mereka memastikan peringatan bahaya ini dikirimkan kepada pengguna di 110 negara tanpa merinci lebih lanjut.
Apple menyebut ancaman ini berkaitan dengan mercenary spyware, yakni perangkat lunak mata-mata yang dikembangkan untuk menjalankan operasi penyadapan terhadap target tertentu.
Apple belum mengungkap siapa pelaku di balik serangan tersebut. Perusahaan juga belum memastikan apakah perangkat atau akun penerima peringatan berhasil dibobol.
Jumlah pengguna yang menerima notifikasi dan daftar negara yang terdampak juga belum diperinci.
Dengan demikian, belum diketahui apakah pengguna iPhone di Indonesia ikut terdampak atau tidak.
Sasar politikus hingga jurnalis
Dalam , Apple menjelaskan bahwa serangan mercenary spyware menyasar individu tertentu, biasanya karena identitas atau pekerjaan mereka.
Kelompok yang kerap menjadi sasaran mencakup jurnalis, aktivis, politikus, dan diplomat.
Serangan ini membutuhkan sumber daya besar. Biayanya bahkan bisa mencapai jutaan dollar AS. Karena itu, sebagian besar pengguna tidak akan menjadi target serangan tersebut.
Apple menyebut notifikasi ancamannya memiliki tingkat keyakinan tinggi bahwa seseorang telah menjadi sasaran.
Meski demikian, peringatan tersebut perlu dibedakan dari konfirmasi bahwa perangkat sudah berhasil disusupi.
Nah, salah satu metode yang dapat digunakan dalam operasi penyadapan semacam ini adalah serangan zero-click.
Dengan metode tersebut, perangkat bisa diserang tanpa mengharuskan korban mengeklik tautan atau mengunduh berkas.
Jika berhasil, penyusup berpotensi mengakses informasi pribadi, mulai dari pesan, riwayat panggilan, daftar kontak, lokasi, hingga foto dan video.
Namun, metode serangan dan celah keamanan yang digunakan dalam kasus terbaru ini belum diungkap.
Apple juga merahasiakan detail yang menjadi dasar pengiriman peringatan. Langkah itu dilakukan agar pelaku tidak mempelajari cara menghindari sistem deteksi perusahaan.
Aktifkan Lockdown Mode
Pengguna yang menerima peringatan disarankan mengaktifkan Lockdown Mode atau Mode Penguncian/Kuncitara.
Fitur ini membatasi sejumlah fungsi perangkat untuk memperkecil peluang serangan siber canggih.
Fitur tersebut bisa ditemukan melalui menu Settings (Pengaturan) > Privacy & Security (Privasi & Keamanan) > Lockdown Mode (Mode Kuncitara).
Pengguna juga disarankan memperbarui perangkat ke versi sistem operasi terbaru agar mendapatkan perbaikan keamanan.
Untuk mengecek keaslian peringatan, pengguna dapat membuka langsung situs account.apple.com, kemudian masuk ke akun masing-masing.
Jika peringatan memang ditujukan kepada pengguna, pemberitahuan akan muncul di bagian atas halaman akun.
Apple menegaskan bahwa notifikasi ancaman yang asli tidak meminta pengguna memasang aplikasi atau profil, membuka berkas, maupun memberikan kata sandi dan kode verifikasi akun, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari TechSpot.
















