JAKARTA — Como 1907 mengukir sejarah di Liga Champions 2026/2027. Tim debutan asal Italia itu mencatatkan kemenangan tandang spektakuler setelah membantai tuan rumah Lens dengan skor 9-1 dalam lanjutan matchday keempat fase liga di Stadion Bollaert-Delelis, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB.
Kemenangan dengan selisih delapan gol tersebut menempatkan Como dalam catatan sejarah kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa. Skor 9-1 menjadi salah satu kemenangan terbesar sepanjang era Liga Champions modern, sejak kompetisi itu menggunakan format dan nama UEFA Champions League pada 1992.
Como juga menjadi tim Italia pertama yang mampu mencetak setidaknya tujuh gol dalam pertandingan tandang Liga Champions. Skor kemenangan fantastis ini juga membawa Como naik ke peringkat keempat klasemen sementara fase liga dengan koleksi sembilan poin.
Penyerang asal Yunani, Anastasios Douvikas, menjadi bintang kemenangan Como. Ia mencetak hattrick, sementara enam gol lainnya disumbangkan Nico Paz, Lucas da Cunha, Marc-Oliver Kempf, Mattia Liberali, Martin Baturina, dan Matteo Papaccioli.
Douvikas membuka pesta gol Como pada menit ketujuh. Ia membelokkan sundulan Maximo Perrone yang mengarah ke tiang jauh setelah situasi sepak pojok. Gol tersebut menjadi awal dari malam yang sulit dilupakan bagi tim tamu.
Como terus menekan dan menggandakan keunggulan pada menit ke-32. Douvikas kembali mencatatkan namanya di papan skor setelah menyelesaikan serangan yang dibangun melalui rangkaian operan dari lini belakang. Delapan menit berselang, giliran Paz yang memperbesar keunggulan menjadi 3-0 setelah memaksimalkan umpan Douvikas.
Memasuki babak kedua, Como tidak mengendurkan serangan. Da Cunha mencetak gol keempat pada menit ke-47 melalui kombinasi umpan satu-dua dengan Paz sebelum menuntaskan peluang di depan gawang Lens. Enam menit kemudian, bek Kempf ikut mencatatkan namanya di papan skor melalui sundulan.
Douvikas melengkapi hattrick pada menit ke-57. Ia memanfaatkan umpan Paz untuk membawa Como unggul 6-0. Pesta gol berlanjut lima menit berselang ketika pemain pengganti Mattia Liberali, yang baru satu menit berada di lapangan, langsung menjebol gawang Robin Risser setelah menerima umpan Jacobo Ramon.
Lens sempat mencetak gol hiburan pada menit ke-65. Ruben Aguilar memperkecil ketertinggalan menjadi 1-7 lewat sepakan voli kaki kanan setelah memanfaatkan situasi sepak pojok. Namun, gol tersebut tidak mengubah jalannya pertandingan. Como kembali menjauh melalui Baturina pada menit ke-69.
Papaccioli kemudian menutup pesta gol Como pada menit ke-90+2. Gol kesembilan itu memastikan kemenangan 9-1 sekaligus menjadi penegasan dominasi tim asuhan Fabregas di markas Lens.
Dalam catatan era Liga Champions modern, kemenangan Como tersebut menyamai skor kemenangan terbesar yang pernah tercipta di kompetisi itu, yakni dengan selisih delapan gol. Sebelumnya, Liverpool pernah menang 8-0 atas Besiktas pada musim 2007/2008, begitu pula Real Madrid yang mengalahkan Malmo FF dengan skor serupa pada 2015/2016.
Namun jika menghitung produktivitas gol, skor 9-1 yang dibuat Como merupakan skor terbesar jika dibandingkan kemenangan Liverpool dan Madrid.
Jika ditarik lebih jauh ke era Piala Champions Eropa sebelum kompetisi berganti nama pada 1992, terdapat kemenangan dengan selisih gol lebih besar. Dinamo Bucuresti pernah mengalahkan Crusaders 11-0 pada 1973, sedangkan Feyenoord membantai KR Reykjavik 12-2 pada 1969.
















